Sejak selesai
direnovasi, aku mulai suka mengunjungi perpustakaan kampus, terutama lantai
satu. Suasananya menjadi lebih tentram dan menyenangkan. Dinding-dinding bukan
lagi berupa satu warna yang membosankan. Kini di satu sisi terdapat warna-warni
seperti berupa puzzle, di sisi lain ada
juga gravity tulisan berbahasa
Thailand—dan aku pernah bertanya-tanya bagaimana bacanya, dan benda-benda hias berbahan
dasar kayu yang digantung maupun ditempel di sisi lain. Jumlah meja dan bangku
juga lebih banyak dari yang sudah-sudah. Penataan seakan telah disulap menjadi luar
biasa rapih dan enak dipandang. Di bagian tertentu, disediakan juga tempat
lesehan. Kalau boleh kubilang, pertama kali melihat tempat ini, kukira akan
dijadikan kafe atau semacamnya. Ternyata, aku keliru. Malahan tidak ada
mahasiswa atau mahasiswi yang boleh membawa makanan dan minuman sejak memasuki
pintu masuk. Sayang sekali.
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Saturday, 9 November 2019
Friday, 8 November 2019
Pemuda Di Bulan Oktober
Pada
bulan Oktober lalu—tepatnya hari
Sabtu, hujan deras melanda kota kami, Malang, dan kudengar dari televisi sore
itu air turun merambat sampai ke seluruh Jawa. Kami—aku dan suami, Sopyan—yang
sedang duduk santai di sofa sambil menikmati hari akhir pekan dengan tontonan
acak dan mie instan, tiba-tiba dikagetkan oleh geledek yang suaranya luar biasa
meledak. Televisi mati. Kipas mati. Lampu padam. Ruang keluarga menjadi gelap
dan seketika tubuhku dingin dan bulu kuduk merinding. Aku menyambar tubuh Sopyan
secara spontan karena takut, begitu pun dirinya karena tahu aku takut.
Monday, 13 March 2017
Permainan Sebuah Koin
Dari sudut manapun, rumah itu
terlihat seperti gula putih yang sedang dikerumuni para semut. Di balik garis
kuning sebelum gerbang keluar, para warga terdekat berkerumun untuk
menyaksikan. Orang-orang yang sedang melintas berhenti dari tujuannya semula,
bertanya-tanya apa yang sedang terjadi, yang akhirnya dari kejauhan hanya
terdengar seperti radio rusak. Nafas mereka mengepul, membuat segumpal asap
bertebaran di udara. Kebanyakan dari mereka beralih meraih ponselnya, lalu
mengambil gambar dan menyebarkannya di media sosial dengan coretan kata-kata,
yang menurut mereka harus dilakukan agar terlihat kekinian, sementara sisanya
merasakan duka atas kejadian yang mengenaskan itu. Di belakang mereka semua
terdapat beberapa mobil polisi dan ambulan yang sudah tiba sejak fajar
menampakan dirinya. Di halaman yang cukup luas sebelum mendekati pintu masuk,
orang-orang yang berasal dari kepolisian tengah menyelediki pemuda yang sudah
tidak bernyawa itu. Karena kasus kali ini membuat otak mereka tidak berjalan
dengan normal, jadi mereka yang bahkan memiliki kewenangan khusus itu pun lebih
memilih untuk tidak memperburuk keadaan sampai semua nampak jelas dalam nalar
manusia.
Seorang pemuda berbadan kekar berlutut dengan kedua tangan menyentuh tanah, menundukkan kepalanya yang diikuti oleh linangan air mata setiap kali orang-orang yang mengelilinginnya menghujani berbagai pertanyaan.
Seorang pemuda berbadan kekar berlutut dengan kedua tangan menyentuh tanah, menundukkan kepalanya yang diikuti oleh linangan air mata setiap kali orang-orang yang mengelilinginnya menghujani berbagai pertanyaan.
"Saya lupa memberitahunya
semalam," ucapnya ketika dimintai penjelasan.
"Koin ini," lanjutnya dengan
isak yang semakin menjadi, menatap lurus benda bundar keemasan yang ada dalam
genggamannya, "seharusnya tidak boleh lepas darinya, lalu dibelanjakan,
apapun itu."
Tuesday, 24 January 2017
Missing
.
Mungkin, pria itu sedang merindu.
Tuesday, 3 January 2017
Mojokerto: Mimpi di Ujung Maut
Pertengahan
juli yang mendung, namun tak juga kunjung hujan. Pada akhirnya aku berangkat
menuju Mojokerto, tempat di mana salah satu saudara temanku tinggal. Awalnya
aku ragu pergi untuk beberapa alasan. Pertama, aku merasa sedikit malas; aku
ingin melakukan sesuatu yang lain. Kedua, apa yang akan aku lakukan sesampainya
di sana? Toh, aku tidak mempunyai urusan. Untuk alasan-alasan lainnya, entah,
aku lupa.
Di perjalanan aku hampir takjub
setiap waktu. Bagaimana tidak, di setiap mata memandang, berbagai dedaunan
hijau selalu nampak. Mereka begitu rapih. Maklum, karena memang begitulah
seharusnya perkebunan tertata. Belum lagi dengan gunung-gunung yang menjulang
tinggi, dilengkapi dengan pemandangan pedesaan dan sungai-sungai kecil di kaki-kaki
mereka. Melihat itu semua, aku memejamkan mata, lalu mencoba merasakan nikmat
itu semua dengan menghirupnya. Sudah lama aku tak merasakan ini; merasakan
ciptaan Tuhan, benakku. Aku juga tak tahu mengapa tiba-tiba aku memikirkan hal
itu, tetapi mungkin ini karena aku sudah tinggal di perkotaan besar yang
dipenuhi oleh desakan gedung-gedung bertingkat, dan juga kendaraan yang
menyembur polusi di sana-sini.
Kami tiba di tempat tujuan sekitar
ba’da ashar, lalu kami dijamu dengan sangat baik: kami dihidangkan beberapa
minuman dan juga semangkuk bakso, dan kemudian kami beranjak tidur untuk
istirahat.
Setelah itu kami bangun—temanku
sudah bangun terlebih dahulu, bersiap-siap untuk salat magrib, dan beberapa
saat kemudian, kami berjalan menuju rumah saudaranya yang satu lagi—entah siapa
itu. Kami saling bersapa ramah dengan ibu dan bapak rumah, dan aku juga
mengenalkan diri. Lalu disambut oleh perbincangan ringan yang entah ke mana
arah tujunya. Terkadang mereka menanyakan tentang kota kelahiranku, namun yang paling
banyak dibicarakan di sana adalah tentang persoalan pengolahan makanan dan
kesehatan—yang tentunya belum pernah kuketahui sebelumnya.
Hingga beberapa lama menit berlalu, ketika si
bapak keluar sebentar dan kami hendak berpamitan, si ibu berkata memecahkan
keheningan, “Saya pernah bermimpi,” katanya, “entah kalian mau percaya atau
tidak.”
Friday, 30 September 2016
Wanita Santa
Pemuda berusia dua puluhan: berbadan
tinggi, berselimut mantel, syal, topi dan juga sarung tangan, masih berdiri di
sana—merasakan atmosfer yang tidak mengenakan. Orang-orang di belakangnya
menatapnya jengkel. Mereka sudah berbaris dalam waktu yang lama hingga
membentuk antrean panjang.
“Tolong plastiknya digandakan,” kata
Eidar, meletakan uang pas setelah merogoh-rogoh sekumpulan koin dan beberapa
lembaran uang di kantung celananya, sementara wanita kasir terlihat begitu
sibuk memasukkan berbagai macam belanjaan.
Dia mengucapkan terima kasih
sedangkan si kasir meminta maaf berulang kali kepada para pelanggan. Akhirnya
Eidar dapat menghembuskan nafas lega, berjalan keluar dari super market dengan
susah payah; meletakkan kedua kantong belanjaan penuhnya setelah tepat di depan
pintu. Lalu dengan erangan pelan, ia merenggangkan otot-otonya yang mulai
mengeras.
Monday, 11 July 2016
Senin Pagi Yang Tak Biasa
Dambelu
Hari ini akan ada apa, ya?
Gue harap
ada sesuatu yang menghibur hari ini.
Ratu
menghembuskan nafas, meyakinkan diri setelah berbicara dengan dirinya sendiri
di depan kaca sebuah toko yang dilewati.
Pagi
nampaknya sedang ingin berdamai: ia begitu sejuk, namun juga menyelimutinya
hingga terasa hangat. Ratu masih berjalan di atas trotoar. Sambil mendengarkan
musik dengan earphone-nya, ia juga
mengamati sekitar. Nampaknya orang-orang juga merasakan hal yang sama, walau ia
melihat satu-dua yang terlihat sibuk dengan ponsel dan arlojinya. Nah, namanya
juga hidup, pikirnya terus berjalan. Kadang daun-daun kecil dari pohon di
sekitarnya berjatuhan, berterbangan jauh melambai-lambai. Ia jadi teringat
film-film drama Korea yang ia tonton jikalau sedang senggang. Pagi yang
romantis, pikirnya.
Ketika
lagu ke-5 terputar, Ratu tiba di halte. Ah,
kenapa hari ini rasanya menyenangkan sekali? benaknya tersenyum-senyum
sendiri; melebarkan kedua tangannya di udara lepas. Orang-orang di sekitar
halte kadang melirik ke arahnya heran. Kepalanya bergoyang-goyang ke sana-sini
dengan kecepatan yang tak biasa. Mereka berpikir, apa hanya anak ini yang
bahagia ketika hari Senin tiba?
Bus
yang sedang ia tunggu akhirnya muncul. Seketika ia menyadari satu hal: “Benar,
namanya juga hidup. Saatnya kembali ngampus.”
***
Thursday, 7 July 2016
Percakapan di Sela-Sela Kesempitan
by:
Dambelu R
Liburan
semester telah tiba. Langit pagi tampaknya agak sedikit mendung. Namun aku
harus tetap bersiap-siap untuk pindah kos untuk tahun ini.
Semua
baju dan barang-barang lainnya sudah kumasukkan dalam koper. Kecuali beberapa
buku yang tersisa di dalam lemari yang kusam ini. Satu persatu kumasukkan ke
dalam tas yang khusus untuk buku setelah kubaca dalam sekilas. Buku-buku
tersebut umumnya membahas tentang keislaman, termasuk buku yang sedang kubaca
kali ini. Namun, tidak seperti sebelumnya, aku tidak meletakkan buku itu,
melainkan terpaku pada satu bab, yang berjudul “Silaturahim”. Judul yang
mengingatkanku pada kejadian beberapa bulan yang lalu, ketika liburan pendek
tiba.
Sungguh,
aku tidak pernah tahu apa yang Allah rencanakan, hingga membuat diri ini begitu
penasaran.
Wednesday, 29 June 2016
Ketukan Tembok di Malam Hari
By:
Dambelu R
Bagi kalian yang percaya tentang dunia perhantuan, tenang, kalian tidak salah; pun tidak benar. Bagi kalian yang tidak percaya tentang hal itu, aku harap kalian selalu dalam kondisi yang baik. Ingat, semua bisa terjadi begitu saja. Begitu saja. Kalian tak tahu apa yang akan terjadi pada dirimu selanjutnya. Kalian hanyalah manusia.
Maaf, kalimat-kalimat di atas tidak begitu berguna. Anggap saja sebagai kalimat pengantar.
***
Wednesday, 15 June 2016
Angin di Bulan Desember
Dambelu
Rani
mematung seketika. Mulutnya beralih membentuk huruf O. Rok abu-abu yang ia
kenakan diremas sekuat tenaga. Kini, jantungnya berdetak secepat lelaki
tersebut melangkah.
Rani
ingin berlari menjauh, tapi entah mengapa dirinya merasa tak sanggup.
Ketika
lelaki itu sudah berada di hadapannya, ia seolah tenggelam dalam lautan yang
luas nan dangkal. Sesak, kemudian gelap.
Mereka
saling menatap. Kemudian kelopak mata Rani mulai pecah dengan air mata.
“Kenapa!?”
ucap si lelaki.
Dan
untuk yang kedua kalinya, kini suara lantangnya terdengar lebih keras. Di
tengah-tengah keramaian, pandangan orang-orang yang sedang berlalu-lalang
berpusat pada mereka berdua.
Rani
hanya menunduk menahan isak, menutup muka dengan kedua tangan, dan seketika
tangisnya menghebat.
“Pato…,
maaf,” ucap lirih dari mulut mungilnya. Mungkin terlalu sederhana, tapi Pato
yakin Rani mengucapkannya dengan ketulusan hati.
Pato
kemudian meraih memeluk tubuhnya. Rani hanya bisa pasrah dalam pelukan yang
hangat itu. Kehangatan yang ia inginkan; yang ia rindukan. Ia membalasnya
dengan nikmat.
Hingga
beberapa saat menikmati suasana, ia menatap langit-langit, lalu berbisik, “Aku
hanya takut, bahwa suatu hari nanti kau akan mencintaiku.”
Mendengar
perkataannya barusan, Pato merasa kecewa. Ternyata Rani belum juga mengakui
keberadaan perasaannya. Padahal tiga tahun sudah mereka menjalani hari-hari
bersama.
“Dan
kau perlu tahu, bahwa aku sudah terlanjur jatuh hati padamu. Lantas, apa yang
salah?”
“Jelas itu salah,” ujar Rani dengan suara
tegasnya yang sudah kembali. “Ketika seseorang mulai mencintai, perasaan itu
akan menjadi sebuah kebencian. Dan ketika hal itu terjadi, maka ia akan segera
menghilang.”
“Dan
kamu,” lanjutnya menjauh dari pelukan, “akan segera lenyap dari kehidupanku.”
Lalu, angin terakhir pada bulan Desember
berhembus membekukan suasana.
Monday, 8 February 2016
Sebuah Keputusan di antara Rintik Hujan
Kemarin, saat senja mulai merobek langit-langit sore, aku terpaku akan sosokmu yang tengah berdiri di keramain kota. Bukan untuk pertama kalinya, tetapi sudah beberapa kejadian ini terulang.
Dan sekarang, di waktu sama, aku melihat dirimu kembali, tetapi kini kau tengah berdiri dengansabar menungu agar lampu berganti merah. Dengan penangkal hujan yang digenggam, kau mulai melangkahkan kaki menuju seberang jalan. Diriku yang sedari tadi di belakangmu sontak mengikuti dengan sendirinya.
Subscribe to:
Posts (Atom)





