Pada
bulan Oktober lalu—tepatnya hari
Sabtu, hujan deras melanda kota kami, Malang, dan kudengar dari televisi sore
itu air turun merambat sampai ke seluruh Jawa. Kami—aku dan suami, Sopyan—yang
sedang duduk santai di sofa sambil menikmati hari akhir pekan dengan tontonan
acak dan mie instan, tiba-tiba dikagetkan oleh geledek yang suaranya luar biasa
meledak. Televisi mati. Kipas mati. Lampu padam. Ruang keluarga menjadi gelap
dan seketika tubuhku dingin dan bulu kuduk merinding. Aku menyambar tubuh Sopyan
secara spontan karena takut, begitu pun dirinya karena tahu aku takut.